Wednesday, May 10, 2006

Harga Emas Terus Melonjak

Harga emas di pasar London pada perdagangan Selasa ini (18/4/2006) mencapai US$ 617,60 hingga US$ 618,40 per ounce. Satu ounce setara dengan 28,35 gram atau jika dihitung dalam rupiah setara dengan Rp 195 ribu per gram.

Nilai ini merupakaan harga tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Sebelumnya harga emas tertinggi di London mencapai level US$ 617,25 per ounce pada 8 Desember 1980.

"Kami tidak melihat harga emas akan berhenti sebelum ke level US$ 620 per ounce," kata pialang emas di London seperti dikutip Reuters, Selasa (18/4/2006).

Emas kini menjadi incaran selain investasi saham dan obligasi. Memanasnya suhu politik dunia terkait program pengayaan nuklir Iran, telah memicu harga minyak dunia melampaui US$ 70 per barel. Harga minyak mentah bahkan diperkirakan akan terus naik mencapai US$ 73 per barel.

Kenaikan harga minyak ini mengkhawatirkan para pemilik modal akan terjadinya inflasi dunia yang bisa mengancam mata uang dolar AS, harga saham dan obligasi. Akibatnya, investor berbondong-bondong melirik emas sebagai alternatif investasi yang aman. (Irna Gustia - detikcom)

Monday, May 8, 2006

Fedya Imunisasi Hepatitis A

Hari Sabtu tanggal 6 Mei 2006, Fedya datang ke ke RSIA Hermina Podomoro untuk minta diimunisasi Hepatitis A. Gak datang sendirian sih, tapi dianterin sama Ayah dan Bunda naik baleno merah. Biasanya dokter langganan adalah Dr. Agus Santoso. Kami pilih dokter tersebut karena beliau cukup komunikatif dalam menjawab rasa keingintahuan kami terhadap perkembangan Fedya, dan kadang memberikan rasa tenang karena hal-hal yang menyangkut kesehatan Fedya yang memang bukan bidang kami berdua. Tapi sayangnya pada tanggal itu Dr. Agus sedang cuti, yang ada dokter pengganti yang namanya Dr. Rismali Agus. Waktu menunggu ketemu dengan dede Shifa, tetangga rumah. Kemudian kami dipanggil ke ruangan dokter, melihat penampilan dokternya sih sepertinya cukup berpengalaman juga, mestinya sih begitu karena yang digantiin aja dokter berpengalaman banget. Fedya masih digendong sama ayahnya, dan baru saya cuci tangan di westafel tempat ibu-ibu menyusui bayinya. Fedya ternyata tertarik dengan westafel diruangan dokter dan sepertinya ingin cuci tangan lagi. Kami memang mengajari anak kami untuk selalu menjaga kebersihan selalu, tetapi memang anak kami demen cuci tangan kayak ayahnya. Ditawarin untuk cuci tangan lagi tentu aja bikin Fedya senang, naik ke bangku kecil bikin Fedya gampang memutar keran air dan membukanya besar-besar sampai air kena mukanya, hihihi... sementara ibunya melotot takut gak enak sama dokternya, hahahaha... Terus pindah ke tempat tidur tempat periksa. "Buka mulutnya pinter... AAAAA", dokter dan suster ikut mangap. Fedya santai aja sepertinya hari ini, gak rewel, tapi kami masih was-was karena setelah ini Fedya akan disuntik imunisasinya. Ayahnya memutuskan untuk menggendong Fedya sementara dokter memberikan imunisasi di lengan kanan. Kami sudah siap-siap untuk mengantisipasi amukan batita berbobot 21 kilogram, ketika ternyata sampai kami selesai menahan napas, tak satupun tangisan atau amukan dari Fedya. Ayah dan Bunda saling melihat dan merasa takjub. Anak Pintar!!! Setelah diplester di bagian yang disuntik, ayah menawarkan cuci tangan lagi dan langsung disambut dengan sangat antusias dengan turun dari gendongan dan naik kursi kecil sendiri langsung buka keran air lagi besar-besar, hahahaha... Fedya sama sekali tidak menangis!

Thursday, May 4, 2006

Kenapa batita berbohong ya?

Pagi ini, Fedya bangun sekitar jam 6 pagi. Keluar dari kamar, langsung tidur-tiduran lagi di ruang tamu. Ayah dan mamanya datang menghampiri dan berniat mengajaknya mandi. Kira-kira begini percakapannya:

Ayah: "Sayaaang... Assalamu'alaikum, sudah bangun yaaaa... pinter keluar kamar sendiri."
Mama: "Mbak Fedya, yuk mandi yuk, sekarang waktunya mandi."
Fedya: "Nggak mau."
Ayah: "Kenapa nggak mau, de?"
Fedya: "Fedya udah mandi."
Ayah: (kaget, heran, dan terkekeh) "Kapan mandinya, De?"
Fedya: "Tadi barusan."
Mama: "Mbak Fedya, ayo mandi dulu."
Fedya: "Sudah mandi, Ma."
Mama: "Kapan mandinya?"
Fedya: "Tadi."
Mama: "Sama siapa?"
Fedya: "Bu le Rani."
Mama: "Dimana?"
Fedya: "Tuh di sana."
Mama: "Dimana, de?"
Fedya: "Di rumah, mbah. Tuh ada dede Muhammad."
Mama: "Ayo mandi, de!"
Fedya: "Fedya sudah mandi! Iiiihhhh..."

Walaupun akhirnya Fedya mandi atas kemauannya sendiri, tetapi fenomena berbohong pada anak kecil cukup membuat terkejut dan sedikit pusing, walau ada hal-hal lain yang terlihat baik seperti kreatifitas, penggunaan kosa kata, dan memainkan logika dalam membuat alibi sederhana. Alasannya mungkin masih malas bergerak, masing mengantuk, belum mau mandi sekarang, atau sikap sedang tidak mau diatur. Di keluarga kami sering membiasakan Fedya memilih sendiri baju yang mau dipakai, ataupun yang lainnya, dipilih atas kemauan Fedya. Walaupun agak sedikit diarahkan, agar hasilnya juga bagus menurut kami. Kelihatannya, proses berfikir anak berumur 2,5 tahun sudah cukup matang, sehingga memang wajar kalau pre-school banyak yang hanya mensyaratkan umur 2 tahun sudah boleh ikut sekolah. Jaman saya dulu, masuk TK paling tidak umurnya harus 4 tahun. Akhirnya sementara kami beranggapan bahwa Fedya berbohong bukan benar-benar ingin berbohong, kami rasa Fedya belum tahu apa itu berbohong, mungkin sebenarnya Fedya ingin mengatakan belum mau mandi, tetapi mungkin karena biasanya Fedya akhirnya kalah dengan pengasuhnya yang bersikeras mau Fedya mandi, keluarlah ide untuk bilang sudah mandi. Fedya sudah besar, 2,5 tahun, mungkin Fedya mulai ingin kemauannya didengar. Fedya ingin lebih dihargai apa yang diucapkannya, karena apa yang Fedya ingin memang itu. Tetapi kelihatannya, yang pasti, anak akan mengikuti apa kata orang tuanya jika apa yang dikatakan orang tuanya itu menarik bagi si anak. Jujur, kami juga begitu sih. Penjelasan mengenai manfaat dan kenikmatan mandi juga belum bisa masuk otaknya, karena ketertarikan adalah motivator yang utama, mungkin satu-satunya motivator saat anak berumur 2,5 tahun. Akhirnya kami berhasil membuat Fedya ingin mandi karena kami mengajaknya bermain di kamar mandi. Kami tidak ingin Fedya berbohong lagi, tetapi alih-alih kami berargumen dengan batita, kami lebih memilih mengubah cara. Contohnya, daripada menyuruhnya atau mengajaknya mandi, lebih baik kami ajak dia bermain air di kamar mandi.