Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

Tuesday, June 17, 2014

Berharganya Nilai 10.000 Jam

Saya menemukan sebuah kalimat menarik, yang bersumber dari buku Outliers, karya Malcolm Gladwell, yakni “10,000 hours of practice is required to achieve mastery”. Berdasarkan kalimat Gladwell ini, dibutuhkan 10.000 jam praktek untuk menjadi master atau seorang ahli. Dalam dunia olahraga, musik, penerbangan, hiburan, kedokteran atau profesi lain, kemungkinan besar hal itu bisa terjadi, meskipun saya yakin ada pengecualian-pengecualian. Tetapi mari kita coba pelajari, apakah hal ini juga berlaku dalam dunia entrepreneurship? Saya akan mencoba menggali dari pengalaman pribadi, bukan karena saya merasa hebat, tetapi untuk mempermudah saja menggali datanya.


Saya masih ingat ketika bekerja di perusahaan terakhir di mana sekitar hampir 9 tahun saya menjadi karyawan di sana. Sebuah perusahaan asing yang bergerak di industri plastik. Di tahun pertama bekerja, saya ditawarkan training ke luar negeri beberapa waktu dengan catatan bersedia menanda tangani kontrak untuk kurun 3 tahun harus terus bekerja di perusahaan itu.

Mendapat tawaran itu, saya tidak langsung mengiyakan, justru banyak berfikir dan balik bertanya ke manajer atasan saya, yakni “Bagaimana masa depan industri plastik ini nantinya ?”, karena menurut pemikiran saya begitu 3 tahun saya bekerja di industri ini, berarti saya sudah menyatakan diri menjadi spesialis di industri tersebut.

Pertanyaan itu membuat atasan saya kaget dan keliatan sedikit bingung atau mungkin malah tersinggung, karena di mana karyawan-karyawan lain sangat mengharapkan memperoleh kesempatan training tersebut, tapi justru saya terkesan mempertanyakan dan kurang menghargai.

Sebagai anak muda yang sedang membentuk masa depan, waktu itu saya merasa bebas untuk menentukan, apakah suatu bidang industri dan perusahaan layak menjadi tumpuan di masa depan atau tidak. Perusahaan tempat saya bekerja pertama kali juga saya tinggalkan di akhir bulan ke-5, karena saya nilai sistem dan masa depan kurang bagus di industri dan perusahaan itu. Termasuk kemungkinan akan ditraining beberapa bulan ke Eropa, dan untuk selanjutnya harus mau terikat kontrak selama 5 tahun wajib bekerja di perusahaan itu.
Akhirnya saya putuskan bersedia untuk ditraining beberapa minggu ke luar negeri dan menanda tangani kontrak bekerja beberapa tahun di perusahaan itu, berarti saya telah memutuskan untuk menjadi spesialis yang benar-benar masuk dan hidup di industri itu.

Menjadi spesialis yang bukan hanya belajar produk, tapi juga berusaha belajar bisnis dan marketnya di industri itu. Memasuki tahun kedua di perusahaan, saya terjangkit virus entrepreneur, dan memutuskan memilih jalur pengusaha sebagai jalan hidup, memulai belajar dan praktik bisnis sambil terus bekerja di perusahaan plastik tersebut.

Akhir tahun 2009 saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari bekerja, yang artinya dari tahun tahun 2001 sampai 2009, saya telah mendalami dunia plastik selama hampir 9 tahun, atau jika kita hitung jamnya: 1 tahun = 365 hari, dikurangi libur rata-rata 110 hari, artinya 255 hari kerja. Dalam sehari bekerja 8 jam, dan di asumsikan 60% atau sekitar 5 jam yang penuh terjun di dunia plastik, artinya sama dengan 255 hari/tahun x 5 jam/hari x 9 tahun = 11.475 jam, saya telah belajar dan praktik di dunia plastik.

Sejak awal 2002 saya belajar dan praktik menjadi pengusaha sembari bekerja, taruhlah saya asumsikan saya belajar di sebagian jam istirahat dan beberapa jam sepulang kerja, serta hari sabtu dan minggu. Ketika hari kerja dari jam 6-jam 10an malam berarti bisa diasumsikan 3 jam, dan sabtu-minggu kita anggap penuh 8 jam kerja, sedangkan hari libur lain kita anggap juga libur dari belajar dan praktek bisnis.

Maka antara 2002-2009 jumlah saya belajar dan praktek bisnis adalah 255 hari kerja/tahun x 3 jam/hari kerja x 8 tahun = sekitar 6.120 jam. Hari sabtu dan minggu saya anggap 70% yang dipakai untuk bisnis, jadi 70% x 96 hari/tahun x 8 jam/hari x 8 tahun = 4.300 jam.

Jadi total jam belajar dan praktek bisnis ketika mengundurkan diri dari bekerja adalah 6.120 jam dihari kerja, ditambah 4.300 jam di sebagian hari Sabtu dan Minggu, jadi total sekitar 10.420 jam. Angka ini tentu bukanlah angka yang seratus persen benar, tapi paling tidak bisa menjadi gambaran yang mendekati.

Kombinasi menjadi spesialis di bidang plastik dan belajar serta praktik menjadi pengusaha dengan total jam terbang masing-masing melebihi 10.000 jam, sekarang saya fahami adalah salah satu modal terpenting, yang membuat kami merasa yakin mengundurkan diri dari pekerjaan, dan memulai dengan serius usaha formal di bidang plastik. Pengalaman itu juga yang membuat bisnis kami lebih cepat berkembang. Selain jam terbang diri sendiri, saya juga menggandeng partner dan anggota tim dengan pengalaman di bidangnya juga melebihi dari 10.000 jam.

Saya lebih senang menyebutnya sebagai telah memiliki kompetensi dan kredibilitas. Maka tidak heran kalau sebagian besar bisnis start up akan berguguran, bahkan konon statistik menyatakan 80% bisnis baru gugur di tahun pertama. Karena kompetensi dan kredibilitasnya belum memadahi.

Bisnis yang gugur atau tidak berkembang belum tentu karena bidang bisnisnya jelek, akan tetapi mungkin karena sang pengusaha dan timnya baru memiliki jam praktek yang sedikit, atau baru tahap proses untuk menjadi ahli. Mungkin baru ratusan jam praktek, atau beberapa ribu jam praktek saja.

Di akhir tulisan ini mari kita bertanya pada diri masing-masing, sudahkah kita belajar dan praktek melebihi 10.000 jam dalam perjalanan menjadi pengusaha sukses? Bukan hanya soal menjadi pengusahanya, tetapi juga soal bidang atau produk yang menjadi usaha kita. Sepuluh ribu jam ini tentu bukan hanya asal praktek, tapi juga disertai semangat, kesenangan dan niat kuat untuk menjalaninya.

Dan selamat menikmati betapa berharganya nilai dari 10.000 jam pengalaman.

Mustofa Romdloni

Tuesday, October 29, 2013

Jack Dorsey - Twitter Co-Founder

Hari-hari Jack Dorsey, Sabtu Merdeka
Tak hanya dikenal dengan ide-ide terobosannya, Jack juga dikenal radikal untuk mengembangkan struktur perusahaan. Jack telah menjadi inspirasi menarik untuk semua pengusaha, bagaimana menjalankan suatu perusahaan. Selain itu, ia juga menjadi contoh pemimpin yang bertanggung jawab.
Menurut Jack, seorang pemimpin memiliki tiga tanggung jawab. Pertama, pemimpin bertanggung jawab membuat managemen bekerja efektif dan efisien, dan memungkinkan untuk memiliki visi sama. Kedua, pemimpin harus bertanggung jawab untuk mengatur dan menjaga komunikasi. Ketiga, pemimpin harus tetap menjaga dana di bank, meski itu dari keuntungan dan investasi. Mengerti sumber dana itu sangat penting, agar mengetahui batasannya.
Meski Jack sibuk dalam dua pekerjaan di Twitter dan Square, ia pun berusaha untuk menghindari stres. Bagi Jack, waktu istirahat terjadi pada Sabtu. Jack menyukai tugasnya dengan teratur dalam sepekan. Senin merupakan waktu untuk rapat dan pertemuan manajemen, Selasa fokus mengembangkan produk. Rabu konsentrasi di marketing. Kamis, membangun mitra di luar. Jumat membangun budaya di perusahaan. Minggu waktu untuk rekrutmen. Sabtu adalah waktu istirahat.

Monday, October 21, 2013

Menyerah


surrender1
Action members,
 
Tadinya untuk catatan Kamis saya kali ini saya ingin menulis tentang sebuah film yang luar biasa inspiratif, yang kita tonton bersama di acara HBH TDA Pusat beberapa waktu lalu. Apalagi kalau bukan film “Crocodile in the Yangtze” yang mengisahkan perjalanan Jack Ma mendirikan Alibaba.com yang fenomenal. Tapi tidak seru kalau saya menuliskan film tersebut dalam sebuah tulisan singkat. Terlalu banyak “sudut pandang” yang bisa diangkat dari film tersebut, sehingga sebuah tulisan tidak cukup mewakilinya. 
 
Maka saya tidak akan menulis sebuah “resensi”, namun hanya ingin mengangkat sebuah karakter manusia yang sebenarnya sangat umum, namun sangat jelas terlihat pada diri seorang pengusaha seperti Jack Ma, yaitu: Pantang Menyerah. 
 
Dalam film tersebut tergambar kegigihan seorang Jack Ma, mulai dari saat mengenalkan internet ke perusahaan dan lembaga pemerintah di RRC, disaat internet belum dikenal. Menjalankan perusahaan yang ditahap awal hanya bisa ‘membakar uang”. Hingga hantaman bertubi-tubi dari kompetitor dengan sumber-daya nyaris tanpa batas. Semua dijawab dengan satu sikap: Pantang Menyerah.
 
Dan saya yakin hampir semua pengusaha mengalami apa yang pernah dihadapi Jack Ma. Dalam bentuk dan skala yang berbeda-beda tentunya.
 
Ada momen-momen dimana seorang pengusaha yang tengah menghadapi tantangan dalam membangun usaha akan mengatakan pada dirinya: Ya sudah lah, nyerah saja. Lempar handuk.
 
Saya berkali-kali menghadapinya. Mungkin Anda juga demikian. 
 
Entah itu situasisasi… eh, situasi keuangan yang sepertinya tidak ada jalan keluarnya. Entah itu tantangan pekerjaan yang sepertinya mustahil dilaksanakan. Entah itu hubungan antar personal yang buruk dan sepertinya tidak bisa diperbaiki.
 
Dan setiap saat itu terjadi, kadang saya juga mempertimbangkan untuk menyerah. 
 
Namun, ada tiga hal yang seringkali kemudian membuat saya menunda untuk menyerah. Tiga hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan film yang saya tadinya mau saya bahas, namun menurut saya penting untuk diketahui, dan mungkin juga bermanfaat bagi Anda.
 
Apakah tiga hal tersebut? Coba kita simak satu per satu:
 
Pertama: Seringkali Kita Belum Mengeluarkan Kemampuan Terbaik 
Ini yang paling sering saya alami. Ketika saya hampir menyerah, saya biasanya bertanya pada diri saya sendiri: Apakah saya sudah mengeluarkan kemampuan terbaik saya? Apakah hanya itu yang bisa saya lakukan? Dan, biasanya kalau jujur jawabannya adalah: tidak. 
 
Ternyata dalam banyak kejadian, sebenarnya masih banyak yang bisa saya lakukan tapi belum atau tidak mau saya lakukan. Contohnya, dalam sebuah kesempatan, perusahaan saya nyaris tidak bisa mengikuti sebuah lelang pekerjaan karena dokumen kami tidak lengkap. Untuk melengkapinya tinggal tersisa satu hari, dan sepertinya mustahil karena melibatkan pihak lain. Kami hampir menyerah. Lalu saya memikirkan pertanyaan di atas. Dan ternyata banyak hal yang masih bisa kami lakukan. Dan setelah dilakukan, ternyata tidak sesulit yang diduga, dan tantangan bisa diselesaikan.
 
Jadi persoalannya ternyata tinggal mau melakukan atau tidak. 
 
Jika kita memutuskan menyerah, jalan keluar langsung tertutup. Namun ketika kita bersedia melakukan yang masih kita bisa lakukan, apapun itu, jalan keluar pun ternyata terbuka.
 
Kedua: Kebanyakan yang Memutuskan “Menyerahlah!” adalah Orang Lain.
 
Nah ini yang paling seru. Setelah saya pikir dan hitung, ternyata yang sering mengatakan “sudahlaah… menyerah saja” itu kebanyakan adalah orang lain. Bukan diri kita sendiri. Tentu dengan bahasa, kata-kata, dan cara mengucapkan yang berbeda-beda.
 
Kadang-kadang terbungkus rapi dalam kalimat-kalimat manis menghibur yang memuat “sugesti” yang sama: menyerahlah.
 
Contohnya disaat awal membangun usaha dan belum langsung bisa berjalan lancar, banyak teman yang datang menghibur. “Wajarlah belum pernah punya pengalaman bisnis, yaa kalau mau tutup ya tutup aja, wajar kok”. “Biasalah itu cash-flow amburadul, itu tanda nya belum siap punya usaha”. “Gak apa-apa menyerah hari ini, nanti bangkit kemudiaaan”. Terdengar akrab di telinga?
 
Pesan dari kalimat-kalimat menghibur tadi cuma satu: Menyerahlah!
 
Lha kok keputusan menyerah datangnya dari orang lain? Ini yang sulit diterima. Apalagi kita sampai hanyut dengan pernyataan-pernyataan tersebut, dan benar-benar menyerah. 
 
Sebelum menerima “keputusan orang lain” tadi, coba kita tanyakan lebih dahulu kepada diri kita: Benarkah kita ingin menyerah sekarang? Apa dampak keputusan menyerah hari ini terhadap pencapaian cita-cita kita? Bagaimana kita akan menceritakan keputusan menyerah ini kepada orang-orang yang kita cintai?
 
Waah kalau sudah ditanya begitu biasanya kita akan katakan: eeits… tunggu dulu, Saya belum mau menyerah.
 
Ketiga: Seringkali Jalan Keluarnya Sudah Kita Miliki
 
Yang kadang bikin puyeng dan ingin menyerah adalah karena kita belum-belum berasumsi bahwa persoalan yang kita hadapi tidak bisa kita selesaikan sendiri tanpa peran, bantuan, maupun sumber-daya dari pihak lain. Sehingga ketika bantuan tidak ada, kita ingin menyerah.
 
Contohnya saat keuangan sedang kritis, biasanya kita langsung berpikir, siapa yang bisa bantu? Siapa yang bisa memberikan dana talangan? Mau ngutang kemana? Akhirnya malah jadi sibuk nambah hutang, dan kelak menciptakan masalah baru. Dan kalau gak ada yang membantu, lebih gawat lagi, jadi gak melakukan apapun. Dan menyerah.
 
Padahal coba kalau ditanyakan lagi: betulkah kita memerlukan “bantuan” tersebut? Dalam banyak kasus, justru ternyata tidak diperlukan.
 
Saya pernah menghadapi situasi demikian. Saat punya kewajiban keuangan yang sepertinya tidak ada jalan keluarnya, ternyata ketika berdiskusi dengan pihak yang menagih malah muncul gagasan menyelesaikan kewajiban dengan jasa yang kami berikan. Ternyata solusinya tidak perlu mencari jauh-jauh. Sesuatu yang sudah kami miliki sendiri.
 
Langsung menggantungkan diri pada penyelesaian dari luar sana, tanda disadari malah menjadi penegasan, bahwa kita memang tidak mampu, bahwa kita tidak bisa, bahwa kita tidak layak. Ini kan bahaya. 
 
Padahal semua manusia sudah dibekali dengan kemampuan terbaik, yang akan bisa menyelesaikan banyak persoalan. 
 
Dalam menjalankan usaha, dalam kehidupan berumah-tangga, dalam kehidupan bermasyarakat, ataupun dalam mengelola organisasi komunitas, bisa jadi kita dihadapkan tantangan yang sepertinya tidak ada jalan keluarnya. Namun sebelum kata menyerah terucap, pertimbangkan tiga hal tadi.
 
Salam sukses, menebar rahmat.
 
 
Fauzi Rachmanto
@fauzirachmanto

Monday, December 3, 2012

Kenapa butuh uang muka?

Pagi-pagi mendapat sms yg berisi bahwa pesanan ke saya dibatalkan.

Gak perlu berlama-lama menanyakan sebabnya, langsung saya jawab kalau pesanan kemarin tidak bisa dibatalkan karena sudah dalam proses pengerjaan.

Untungnya saya selalu meminta uang muka atau bayar lunas di depan yang menghindari saya dari kerugian karena kasus-kasus pembatalan seperti ini.

Saya masih ingat curhat teman yang terpaksa menutup toko bukunya karena seseorang memesan buku dengan jumlah banyak yang membuat teman saya sampai berhutang untuk memesankan bukunya ke penerbit. Tiba-tiba orang yg memesan membatalkan pesanannya, sialnya juga teman saya gak meminta uang muka sepeserpun, akibatnya barang yang sudah terlanjur dipesan ke penerbit cuma punya dua pilihan:
1. Dijual seperti biasa dengan resiko barang gak laku dan uang mandek
2. Dikembalikan ke penerbit dengan resiko uang dipotong dan kepercayaan penerbit akan jatuh

Teman saya mengambil pilihan ke dua yaitu mengembalikan bukunya ke penerbit dan menutup tokonya. Teman saya rugi uang dan masih memiliki utang akibat ada pihak yang main-main dan tidak bertanggung jawab.

Bisnis butuh ketegasan, dan juga kepercayaan.

Kalau calon pembeli gak percaya untuk menitipkan uang muka, maka penjual juga bisa gak percaya bahwa pesanan akan dibayar. Logika mudah!

Jadi salah satu yang penting kalau mau bertahan di bisnis, atur resiko bisnis sekecil mungkin.

Terima kasih,

Ferdi Ramdhon
Follow twitter @ferdirn

Tuesday, November 27, 2012

Janji ke pelanggan

Sering saya mengamati janji-janji para pedagang yang mampu menarik para calon pembeli untuk membeli kepadanya. Kadang janjinya agak kurang masuk akal, misal:

Jasa pengiriman membutuhkan waktu rata-rata 3 hari untuk sampai ke si penerima tetapi pengalaman penjual yang beberapa kali menerima info kalau pengirimannya sampai 1-2 hari saja kemudian meyakinkan calon pembeli kalau pengirimannya akan sampai dalam 2 hari kerja.

Menurut saya ini konyol karena menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Kalau yang dijanjikannya adalah waktu produksi itu masih masuk akal karena produksi itu kita yang kerjakan maka waktu produksi ada di dalam kontrol kita. Tapi pengiriman barang dikerjakan oleh pihak lain, dan pihak ekspedisi bisa memberikan janji waktu 3 hari, tapi kalau 2 hari sudah sampai ya itu adalah bonus dalam bentuk pelayanan.

Tapi perusahaan ekspedisi itu sampai sekarang gak mengubah waktu pengirimannya dari 3 hari menjadi 2 hari seperti hasil pengalaman si pedagang, padahal perusahaan ekspedisi pasti lebih tahu bahwa beberapa kali bisa mengirim lebih cepat.

Kalau janji tidak ditepati maka pelanggan akan kecewa, akibat dari pedagang yang over promise.

Selalu gunakan logika yang mudah, dan hati-hatilah berjanji kepada siapapun.

Terima kasih,

Ferdi Ramdhon
Follow twitter @ferdirn

Tuesday, November 6, 2012

Manage expectation

Pagi-pagi seorang Ibu menelepon sudah berada di depan toko saya untuk membeli produk yang akan dibawanya ke luar kota. Saya segera meminta maaf karena jam buka toko kami adalah jam 9 pagi, sementara sekarang masih jam 7 lewat, dan saya belum mandi pula, hehehe...

Si Ibu mendesak agar saya bisa segera berangkat ke toko dan si Ibu bersedia menunggu, tetapi saya kebetulan ada acara ke tempat lain pagi itu sehingga saya meminta si Ibu untuk menunggu sebentar sementara saya mencoba menelepon karyawan agar bisa datang lebih pagi. Singkat cerita, karyawan saya menyanggupi untuk datang lebih pagi, tetapi katanya paling cepat jam 8.15.

Saya menelepon si Ibu lagi dan bilang bahwa nanti ada karyawan saya yang akan datang buka toko sekitar jam 8.30, dan ternyata karena kebetulan pagi itu jalanan macet maka karyawan saya pun sampai toko jam 8.45 dan si Ibu sudah tidak ada. Saya pun baru tahu jam 9.30 saat si Ibu marah-marah melalui sms bahwa saya seperti gak punya niat mau buka toko atau nggak, sms lagi bahwa anaknya sudah rewel karena terlalu lama menunggu, sms lagi bahwa sudah ditelepon terus oleh saudaranya, dan berbagai sms keluhan lainnya yang tentu saja gak ada hubungannya dengan saya :)

Saya berpikir sejenak untuk menyusun kata-kata balasan sms si Ibu, dan saya menulis bahwa saya meminta maaf sebesar-besarnya, dan kami sudah berusaha agar bisa datang secepatnya tetapi ternyata tidak seperti yang diharapkan.

Lama sms saya tidak dibalas, dan saya pikir mungkin si Ibu marah dan tidak akan membalas.

Tetapi agak siang si Ibu membalas sms dengan mengatakan bahwa ia pun minta maaf karena harus buru-buru pergi dan tidak bisa menunggu lagi. Sepertinya si Ibu sudah mengerti persoalannya.

Menjual adalah inti dari bisnis, dengan menjual maka bisnis memperoleh untung. Dengan ketidakmampuan kami untuk menjual pagi itu kepada si Ibu, maka sebetulnya kami sudah rugi secara potensial, harusnya pagi itu kami bisa mendapat keuntungan tetapi gagal kami peroleh.

Pagi itu si Ibu memaksa agar kami bisa datang ke toko 30 menit lagi atau sekitar jam 7.45 tetapi saya harus menolak karena tahu bahwa hal tersebut sulit dipenuhi, apalagi secara mendadak. Saya menawarkan sebisa mungkin akan buka toko jam 8.30 karena akan ada karyawan yang datang segera dan itupun kalau si Ibu bersedia menunggu lebih lama.

Ekspektasi si Ibu awalnya adalah bisa membeli pagi itu dan bersedia menunggu sampai jam 7.45 tetapi saya memberikan ekspektasi bahwa jam 8.30 akan melayani si Ibu, dan si Ibu bersedia. Walau akhirnya tidak terlayani tetapi si Ibu ternyata tidak terlalu marah karena kami memberikan ekspektasi untuk melayani jam 8.30 bukan mengikuti ekspektasi si Ibu yang jam 7.45.

Tentu akhirnya berbeda kalau kami meng-iya-kan saja ekspektasi si Ibu yang jam 7.45 padahal kami merasa sulit memenuhinya dan pasti si Ibu akan marah besar karena jam 8.30 pun kami belum datang karena sudah lebih 1 jam menunggu dari jam 7 lewat.

Walaupun akhirnya kami buka toko jam 8.45 yang berarti lewat 15 menit dari ekspektasi jam 8.30, si Ibu tidak terlalu marah dibandingkan kalau ekspektasinya jam 7.45 yang berarti lewat 1 jam, tentu akan marah besar.

Calon pembeli yang marah besar tentu sebisa mungkin tidak akan datang lagi bahkan bisa jadi menyebarkan cerita pengalaman jeleknya walau belum tentu itu sepenuhnya kesalahan kita. Tapi bagaimana kita me-manage ekspektasi dari calon pembeli seharusnya mempengaruhi apakah si calon pembeli akan tetap berinteraksi dengan kita atau tidak percaya lagi dengan kita.

Penjual memang harus confident, tapi kalau over confident maka resikonya semakin besar. Lebih baik terus berpegang pada prinsip "Low Expectation, High Delivery", bukan sebaliknya.

Ferdi Ramdhon
http://ferdiramdhon.blogspot.com

Sunday, November 4, 2012

Apa keunggulan bersaingnya?

Beberapa hari yang lalu ada seorang kawan yang datang menawarkan sebuah produk baru yang permintaan untuk jenis produk itu memang sedang tinggi, ceritanya memang mau ikut berkompetisi dengan merek-merek lain yang memang sudah duluan bersaing di pasar.

Ngobrol sana-sini ternyata saya belum menangkap apa keunggulan atau diferensiasinya dari produk yang ada. Ketika ditanya apa keunggulannya maka dijawab mengenai proses pembuatan, bahan baku, rasa lebih enak, dan hal-hal lain yang sulit diukur oleh calon pembeli.

Saya bertanya apakah produk tersebut bisa membawa manfaat lebih besar atau manfaat baru dibanding merek yang sudah ada, dijawab semua merek sebetulnya sama saja gak ada kelebihannya.

Teman saya menginginkan agar saya lebih mendahulukan menjual produknya daripada merek lain yang ada tetapi saya tidak diberi "senjata pamungkas" yang mampu mengalihkan minat konsumen terhadap merek tertentu.

Dengan sopan tentu saya meng-iya-kan keinginan teman saya tersebut, tapi kecil kemungkinan calon pembeli dapat dirayu agar mau membeli produk tanpa alasan kuat.

Produk tanpa keunggulan bersaing yang kuat hanya akan menjadi produk rata-rata saja, walaupun punya sales team yang tangguh pun tetap agak sulit menjualnya dibanding produk yang dari awal di desain untuk memiliki suatu keunggulan bersaing yang kuat atau yang khas.

Terima kasih

Ferdi Ramdhon
http://ferdiramdhon.blogspot.com

Friday, February 17, 2012

The KEY to SUCCESS


by. Brian Tracy

Setiap prestasi besar dimulai dengan visi, mimpi tentang sesuatu yang menarik atau berbeda, perasaan yang menginspirasi dan memotivasi Anda untuk tujuan apa pun yang lebih tinggi dan lebih dari itu Anda pernah dicapai sebelumnya.

Apa visi Anda untuk hidup Anda?

Bayangkan sejenak bahwa Anda tidak memiliki keterbatasan pada apa yang Anda dapat atau lakukan.

Bayangkan bahwa Anda memiliki semua waktu dan semua uang itu, semua pengetahuan dan pengalaman, semua keterampilan dan sumber daya, semua teman dan kontak.

Jika Anda bisa memiliki sesuatu dalam hidup Anda, apa itu?

Proyek lima tahun ke depan dan membayangkan bahwa hidup Anda sekarang sempurna dalam segala hal.

Apa yang terlihat seperti? Apa yang Anda lakukan? Yang ada dengan Anda? Yang tidak lagi ada?

Jelaskan masa depan ideal Anda seperti apakah itu sempurna dalam segala hal.

Ambil napas. Memberi Anda sesuatu untuk dipikirkan, bukan? Sekarang, ke kunci keberhasilan ...

Setelah bertahun-tahun mencari, aku bertemu dengan seorang pria yang bijaksana dan kaya yang menyuruhku duduk dan mengatakan kunci keberhasilan. Dia juga menjelaskan alasan kegagalan dan kurang berprestasi dalam hidup.

Saat ia berbicara, aku langsung mengenali kebenaran dalam apa yang dia katakan. Dan penemuan tentang kesuksesan cukup sederhana, karena semua kebenaran besar tampaknya.

Apa dia mengatakan kepada saya adalah ini:

"Kunci kesuksesan adalah bagi Anda untuk menetapkan satu besar, tujuan yang menantang dan kemudian membayar harga apapun, mengatasi hambatan, dan bertahan melalui kesulitan sampai akhirnya Anda mencapainya."

Dengan mencapai satu tujuan penting, Anda membuat pola, template untuk sukses dalam pikiran bawah sadar Anda. Selamanya setelah Anda akan secara otomatis diarahkan dan didorong menuju mengulangi bahwa keberhasilan dalam hal lain yang Anda mencoba.

Dengan mengatasi kesulitan dan mencapai satu tujuan besar di manapun, Anda akan memprogram diri Anda untuk sukses di daerah lain juga.

Dengan kata lain, Anda belajar untuk sukses dengan berhasil. Semakin Anda capai, semakin Anda dapat mencapai.

Setiap keberhasilan, terutama yang pertama, membangun rasa percaya diri dan keyakinan bahwa Anda akan berhasil waktu berikutnya.

Faktanya adalah bahwa Anda dapat mencapai hampir semua tujuan yang Anda tetapkan untuk diri sendiri jika Anda bertahan cukup lama dan bekerja cukup keras.

Satu-satunya yang dapat menghentikan Anda adalah diri Anda sendiri.

Dan Anda belajar untuk bertahan dengan bertahan dalam menghadapi kesulitan besar ketika semua orang di sekitar Anda yang berhenti dan setiap serat jeritan Anda berada di Anda untuk berhenti juga.

Sebagai contoh ...

Ketika Anda tunduk bahan kimia tertentu untuk panas yang hebat, bahan kimia akan mengkristal dan membentuk zat yang sama sekali baru, suatu komposisi baru di mana proses kristalisasi ireversibel.

Sebuah benjolan batubara, misalnya, menjadi berlian di bawah panas berkepanjangan intens dan tekanan.

Dengan cara yang sama, Anda menjadi orang kekuatan besar dengan tekun dalam kancah kesulitan intens sampai akhirnya Anda berhasil.

Setiap kali Anda memaksa diri Anda untuk bertahan, bukan menyerah, karakter Anda "mengkristal" pada tingkat baru lebih tinggi. Akhirnya, Anda mencapai titik di mana Anda menjadi tak terbendung ...

... tapi tidak ada yang mulai sebagai berlian.

Ini adalah proses awal memotivasi diri Anda untuk menetapkan dan mencapai tujuan PERTAMA yang menggerakkan Anda satu langkah lebih dekat untuk menjadi berlian dan satu langkah lebih jauh dari segumpal batubara.

Wednesday, February 15, 2012

The Social Network


Pada musim gugur 2003, seorang mahasiswa Harvard dan programmer komputer jenius, Mark Zuckerberg bekerja dengan komputernya dan dengan semangat memulai mengerjakan sebuah ide baru. Sambil nge-blog dan memprogram, apa yang dilakukannya di asrama kampusnya akan segera menjadi sebuah jaringan sosial global (a global social network) dan sebuah revolusi dari cara berkomunikasi. Sekitar 6 tahun kemudian, www.facebook.com, dengan lebih dari 500 juta pengguna, Mark Zuckerberg adalah milyuner termuda abad ini.

Begitulah tulisan yang ada di cover belakang DVD berjudul The Social Network. Memang bukan film box office, tapi minat saya pada bidang IT membuat saya harus menontonnya sampai 3x. Film lainnya yaitu Pirates of Silicon Valley yang menceritakan tentang Microsoft dan Apple sudah tidak terhitung berapa kali nonton (bisa ditonton di youtube).

Mark Zuckerberg dengan spontan memulai begitu saja membangun website social yang merupakan cikal bakal dari facebook. Action dia cepat, ciri orang sukses! Minat dan bakatnya yang tinggi pada program komputer membuatnya senang bermain dengan komputer, ide-ide nyeleneh dan sulit dia coba diaplikasikan, dan saat teman-temannya berkata “Mark, you are genius”, dia tertawa saja.

Percobaan pertamanya dengan menggunakan server universitas Harvard sukses membuat 200 ribu orang yang mengakses dalam waktu sekitar 2 jam saja sejak diluncurkan, dan sukses membuat jaringan komputer Harvard mati sehingga dia dipanggil oleh pihak universitas untuk bertanggung jawab.

Dengan bantuan dan koneksi teman-teman lama dan barunya, Mark mendapat dana untuk memulai ide barunya untuk menyewa server dan membuat website jaringan sosial yang lebih baik dari friendster dan myspace yang dianggapnya tidak menarik.

Dianggap mencuri ide dari sekelompok mahasiswa Harvard lainnya yang sedang mengembangkan web serupa bernama harvardconnection, dengan santai Mark menjawab “buktikan saja” dan dia terus membangun ide-nya. Thefacebook.com, site awal facebook.com sejak diluncurkan terus meningkat penggunanya. Dari fokus ke pengguna Harvard yang eklusif, Mark membuka channel ke perguruan tinggi lainnya hingga ke Eropa dan akhirnya ke seluruh dunia.

Lewat bantuan perusahaan Ventur Capital (VC), website facebook.com semakin jaya dengan tambahan feature-feature yang membuat penggunanya betah berlama-lama dan membuat facebook.com website dengan occupation rate tertinggi. Saat facebook.com semakin terkenal dan bertambah penggunanya, Mark harus menjawab tantangan soal legalitas. Saat teman-temannya ribut soal pembagian saham perusahaan facebook, apalagi setelah VC masuk yang membuat saham mereka terdilusi, Mark diam saja sambil terus bekerja, dan ketika salah seorang temannya bertanya pendapat Mark soal pembagian saham, temannya yang lain berkata “dia gak tertarik sama hal seperti itu”, dan Mark benar-benar tidak merasa terganggu dan terus bekerja. Itulah Mark Zuckerberg, founder of facebook.com, multi milyuner termuda abad ini.
Passion, quick action, network, and focus…. money will follow

Semoga bisa diambil hikmahnya.

Salam,
Ferdi Ramdhon

Saturday, February 11, 2012

Lecture by Sandiaga Uno

Video Sandiaga Uno mengenai bisnis, investasi dan kekayaan dapat dilihat di sini http://t.co/PWW7GVyJ

Very recommeded to watch


See you at the top

Monday, February 6, 2012

Time Management

Time management adalah sesuatu yang susah susah gampang diterapkan. Lihat, kata "susah"-nya tertulis 2x dan kata "gampang"-nya cuma sekali :)

Di sebuah buku tentang Time Management yang saya baca, penulis menyarankan untuk memberikan bobot kepada masing-masing Tugas (Task) kita dengan angka 1 sampai 4, 1 berarti sangat penting dan mendesak sementara 4 berati tidak penting dan tidak mendesak. Gampangnya, lakukan segera Tugas yang memiliki bobot 1 sesegera mungkin.


Di sebuah buku lain tentang Time Management yang saya baca, penulis menyarankan agar dalam sehari maksimal kita hanya merencanakan 3 Tugas saja, karena merencanakan lebih dari 3 Tugas akan membuat kita stress dan tidak bisa menikmati hidup. Tidak perduli itu Tugas penting semua atau kombinasi, tetaplah maksimal 3 Tugas saja.


Botom line,
paragraf paling atas sudah menunjukkan bahwa Time Management 2x susahnya dibanding gampangnya. Oleh karena itu, cara paling efektif untuk Time Management adalah secepat mungkin menyelesaikan Tugas, dan jika Anda bukanlah seorang Penunda, maka Anda bisa melupakan Time Management.

Friday, May 23, 2008

Ebook Gratis Bagaimana Cara Menjual Ide atau Keahlian Anda dengan Laris di Internet

Ebook Gratis yang menarik sekali isinya:

"Bagaimana Anda Bisa Mendapatkan Keuntungan Sedikitnya Rp. 500.000,- setiap hari dengan hanya Menjual APAPUN IDE, HOBI Atau Keahlian Anda Tanpa Pernah DITOLAK Melalui Media INTERNET"

Gratis download di http://www.onlinesalesmagic.com/




Monday, May 5, 2008

Kegagalan Terlaris di Dunia

Bisnis yang dimulai dengan kegagalan bisa membawa kesuksesan yang tidak disangka-sangka. Seperti yang dialami oleh Clarence A. Crane, pebisnis permen coklat yang suatu ketika harus memutar otak karena omzet bisnisnya menurun setiap musim panas karena coklat menjadi mudah meleleh.

Akhirnya Crane memutuskan untuk membuat dan menjual permen mint padat. Untuk mencetaknya, ia menyewa seorang pembuat pil lokal untuk membuat permen mint menjadi padat. Karena kesalahan mesin, permen yang dihasilkan ternyata tidak berbentuk bundar padat seperti yang diinginkan, melainkan berlubang di tengah seperti cincin.

Melihat permen gagal itu, Crane tidak begitu saja langsung membuangnya. Ia malah menjual permen cincin itu dengan nama "Life Savers". Hasilnya? Produknya menjadi permen cincin pertama dan paling sukses di dunia.

Sejak pertama kali muncul di tahun 1912 sampai tahun 1980, permen paling laris di dunia ini diperkirakan telah terjual sebanyak 30 milyar keping, yang bila dijejerkan panjangnya sama dengan rute bumi - bulan hingga 3 kali

Sunday, February 24, 2008

Bisnis Baru: Korean Ginseng Tea

Alhamdulillah,

Karena kekuatan jaringan, bisnis saya bertambah satu lagi yaitu distribusi produk kesehatan impor dari Korea yang terkenal, apalagi kalo bukan Ginseng.

Korean Ginseng Tea nama produknya bisa dilihat di http://www.tehginseng.com merupakan teh ginseng yang diimpor langsung dari Korea. Kebetulan teman saya kenal dengan importirnya dan si importir mencari distributor yang berminat. Alhamdulillah, mudah-mudahan bisnis baru ini bisa membawa berkah bagi semua umat manusia dan menolong orang, paling tidak untuk meningkatkan kesehatan dan taraf hidup manusia.

Dicari Agen di Seluruh Indonesia, harga Agen lihat di sini

Doain ya...

Terima kasih,

Ferdi

Wednesday, April 4, 2007

Peluang Usaha Baru: Jahe Merah

Kata futurolog Alvin Toffler, bisnis yang berkembang pesat di tahun-tahun yang akan datang adalah bisnis kesehatan, pendidikan, dan saya lupa satu lagi.

Bisnis kesehatan memang menarik sekali, dimana semakin hari sepertinya tambah banyak aja jenis penyakit yang muncul dan keluhan-keluhan lainnya.

Seorang teman menawarkan bisnis jahe merah yang katanya banyak sekali manfaat dan khasiatnya. Tidak ada salahnya kami menjalankan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan produknya, maupun berminat untuk bermitra usaha menjalankan bisnis ini juga.

Informasi silahkan kunjungi http://jahemerah.blogspot.com

Semoga sehat selalu !

Live long & prosper