Pagi-pagi mendapat sms yg berisi bahwa pesanan ke saya dibatalkan.
Gak perlu berlama-lama menanyakan sebabnya, langsung saya jawab kalau pesanan kemarin tidak bisa dibatalkan karena sudah dalam proses pengerjaan.
Untungnya saya selalu meminta uang muka atau bayar lunas di depan yang menghindari saya dari kerugian karena kasus-kasus pembatalan seperti ini.
Saya masih ingat curhat teman yang terpaksa menutup toko bukunya karena seseorang memesan buku dengan jumlah banyak yang membuat teman saya sampai berhutang untuk memesankan bukunya ke penerbit. Tiba-tiba orang yg memesan membatalkan pesanannya, sialnya juga teman saya gak meminta uang muka sepeserpun, akibatnya barang yang sudah terlanjur dipesan ke penerbit cuma punya dua pilihan:
1. Dijual seperti biasa dengan resiko barang gak laku dan uang mandek
2. Dikembalikan ke penerbit dengan resiko uang dipotong dan kepercayaan penerbit akan jatuh
Teman saya mengambil pilihan ke dua yaitu mengembalikan bukunya ke penerbit dan menutup tokonya. Teman saya rugi uang dan masih memiliki utang akibat ada pihak yang main-main dan tidak bertanggung jawab.
Bisnis butuh ketegasan, dan juga kepercayaan.
Kalau calon pembeli gak percaya untuk menitipkan uang muka, maka penjual juga bisa gak percaya bahwa pesanan akan dibayar. Logika mudah!
Jadi salah satu yang penting kalau mau bertahan di bisnis, atur resiko bisnis sekecil mungkin.
Terima kasih,
Ferdi Ramdhon
Follow twitter @ferdirn
Monday, December 3, 2012
Tuesday, November 27, 2012
Janji ke pelanggan
Sering saya mengamati janji-janji para pedagang yang mampu menarik para calon pembeli untuk membeli kepadanya. Kadang janjinya agak kurang masuk akal, misal:
Ferdi Ramdhon
Jasa pengiriman membutuhkan waktu rata-rata 3 hari untuk sampai ke si penerima tetapi pengalaman penjual yang beberapa kali menerima info kalau pengirimannya sampai 1-2 hari saja kemudian meyakinkan calon pembeli kalau pengirimannya akan sampai dalam 2 hari kerja.
Menurut saya ini konyol karena menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Kalau yang dijanjikannya adalah waktu produksi itu masih masuk akal karena produksi itu kita yang kerjakan maka waktu produksi ada di dalam kontrol kita. Tapi pengiriman barang dikerjakan oleh pihak lain, dan pihak ekspedisi bisa memberikan janji waktu 3 hari, tapi kalau 2 hari sudah sampai ya itu adalah bonus dalam bentuk pelayanan.
Tapi perusahaan ekspedisi itu sampai sekarang gak mengubah waktu pengirimannya dari 3 hari menjadi 2 hari seperti hasil pengalaman si pedagang, padahal perusahaan ekspedisi pasti lebih tahu bahwa beberapa kali bisa mengirim lebih cepat.
Kalau janji tidak ditepati maka pelanggan akan kecewa, akibat dari pedagang yang over promise.
Selalu gunakan logika yang mudah, dan hati-hatilah berjanji kepada siapapun.
Terima kasih,
Ferdi Ramdhon
Follow twitter @ferdirn
Thursday, November 22, 2012
Lo Kheng Hong, Warren Buffet Indonesia
Berinvestasi di saham mungkin bukan perkara mudah bagi sebagian orang, butuh
ketepatan, perhitungan dan tentu saja keberanian untuk mencoba. Hal tersebut
sepertinya telah dilewati oleh pria 52 tahun Lo Kheng Hong. Selama 22 tahun
dirinya menggeluti saham hingga akhirnya dijuluki Warren Buffet
Indonesia.
Filosofi hidup yang dijalaninya yaitu "menjadi kaya
sambil tidur" tengah mengantarkan dia menjadi miliarder di pasar saham,
disebut-sebut asetnya bernilai triliunan rupiah. Bagaimana filosofi hidup yang
dijalani mampu membuatnya dijuluki Warren Buffet Indonesia. Dalam sebuah
kesempatan, Lo Kheng Hong berbagi caranya dalam memilih saham.
"Saat kita akan membeli saham, sebaiknya kita harus
mengetahui dahulu manajemen perusahaan tersebut bagaimana, apakah menerapkan
Good Corporate Governance (GCG) atau tidak, apakah perusahaan tersebut memiliki
integritas yang baik," jelasnya di Jakarta.
Selain itu menurutnya, membeli saham jangan seperti
beli saham dalam karung, "Buy What u Know and Know What u Buy", seseroang bisa
mengetahui saham itu baik atau tidak dengan mencari tahu dari kompetitornya atau
pegawai perusahaan tersebut.
"Saya akan mencari tau dari kompetitornya, karena
biasanya mereka tahu baik buruk kompetitor mereka, perlu dicari tahu agar tidak
beli kucing dalam karung, karena ini kan menyangkut harta kita, jadi jangan
membeli sesuatu yang tidak kita tahu," jelasnya.
Selanjutnya, dalam memilih saham, juga perlu
mengetahui manajemennya, apakah pengelolanya jujur atau tidak, jangan sampai
pengelolanya suka ambil uang perusahaan, sehingga sebagai sleeping partner
dirugikan.
"Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama
adalah manajemen, kedua manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Selain itu
kita harus mengetahui bisnis atau sektor apa yang dijalani, karena ada sektor
yang menarik ada juga yang tidak menarik," ungkapnya.
Selain itu yang perlu diperhatikan juga adalah
pertumbuhan emiten bersangkutan apakah tumbuh baik atau tidak, karena ada empat
tipe perusahaan, seperti perusahaan yang rugi terus, ada yang kadang untung, dan
kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar terus, tapi stagnan. Ada
juga perusahaan yang growing secara berkala.
"Kita juga perlu melihat kinerjanya lima tahun ke
belakang, kita lihat masa lalunya, biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh,
ke depannya akan mengalami hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut
growing, tandanya itu bagus," tuturnya.
Namun yang tidak kalah penting, selain fundamental
emiten, harus memperhatikan dari segi harga. Seperti price to earning ratio
(PER)-nya, dari situ dapat mengetahui kemampuan emiten tersebut dalam membukukan
keuntungan. "Biasanya perusahaan yang sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya
sudah di atas 10 kali," jelasnya.
Lebih lanjut Lo Kheng Hong mengatakan jika dirinya
merupakan tipe investor fundamental, karena yang akan dilihat dari segi
manajemen atau pertumbuhan perusahaan. Namun bukan berarti hal teknikal seperti
grafik, semuanya diabaikan, karena yang diperlukan memang selektif.
"Jangan trading for living, tapi trading agar
menjadi kaya. Kalau kita jago tapi tidak bisa mengendalikan diri itu juga tidak
bagus," kata Lo Kheng Hong.
Sumber : OKEZONE.COM
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)